Kamis, 27 November 2014

feature



Menelisik jejak sang kesatria dari jawa di negeri maritime
Oleh
Nurrahmah
Jurnalistik A
50500113003s
Enam mahasiswi itu tengah mengintai sebuah penjara yang terletak bersebelahan dengan meseum la galilio dua, sebuah bangunan yang terkesan menyendiri itu seperti sebuah penjara, yang memiliki halaman seluas satu meter lebih dan lebar satu meter. Tidak seperti penjara pada umumnya, penjara ini memiliki jeruji besi yang tidak sampai setinggi orang dewasa, yang lebih mirip sebuah jendela. Pintu itu entah terbuat baja/aluminium yang diberi sedikit motif bulat-bulat kecil. Pintu itu memiliki dua pintu dan di kaitkan dengan gembok di tengahnya. Pada bagian dalamnya, jika dilihat dari depan, hanya berupa ruangannya yang terhubung dengan ruangan lain seluas 4x 1 meter dan memiliki tangga kayu untuk lantai dua. Ruangan itu berhawa mistik dengan sebuah kuburan di dalamnya.
“ini penjara yah,” Tanya rahmah sambil menenteng sebuah tripot.
“Iya, ini penjara,” seru rosdiana.
“Terus mana tahanannya,” desahnya pelan.
Enam mahasiswi itu terus mengintai, tatkala seorang laki-laki dengan usia kisaran 50 tahun ke atas memarkirkan motornya di samping mereka berdiri. Mahasiswi itu seakan tidak menghiraukan kehadiran laki-laki itu. Mereka bahkan tidak beranjak dari tempatnya semula.
“Mau ka masuk ke dalam,” ujar rosdiana kemudian.
“Terus harus lewat mana, masah mau lewat museum itu, mahal tahu karcisnya,” ngerutu rahmah.
“Mau ka lihat-lihat di dalam ew,” seru rosdiana lagi.
Tiba-tiba laki-laki itu, laki-laki yang memiliki kulit sawo matang gelap memakai sebuah kaca mata, entah minus atau plus dan berseragamkan batik motif biru. berdiri di samping kirinya rosdiana.
“Mau masuk ke dalam penjara ini,” ujarnya kemudian.
“Iya pak- iya pak, bagaimana caranya,” Jawab rosdiana dengan penuh semangat.
Bapak itu tersenyum tipis, “saya masukkan kalian ke dalam penjara tapi jangan harap kalian bisa keluar lagi.”
“Hahhhhh!!,” seru mahasiswi itu hampir serentak. “kenapa begitu pak,” rosdiana menyela. “Yah, karena orang yang masuk ke dalam penjara tidak akan bisa keluar lagi” Jawabnya santai.  “Kamu tidak lihat, mana ada orang yang masuk penjara ini.”
Kemudian laki-laku itu berlalu meninggalkan ke enam mahasiswi yang masih diam mematung  dari tempatnya. Namun, tiba-tiba rosdiana mnghentikan langkah bapak itu.
“Pak pak…, bapak kerja di sini?”
“Iya, saya kerja di sini”
“Sudah berapa lama pak”
“Kira-kira dua puluh tahunan lah”
“Ohh, sudah lama yah.”
“Oh iya pak, boleh gak kita Tanya-tanya.”
“Tanya-tanya tentang apa?”
“Tanya-tanya tentang ini pak, benteng roterdam.”
“Oh, boleh-boleh. Ayo silakan.”
“Cari tempat dulu pak dimana gitu yang bagus untuk duduk-duduk dan ngobrol.”
“Ohhh, di kantor saya saja. Di sini,” sambil menunjuk sebuah bangunan yang bersebelahan dengan penjara tersebut.
Merekapun di giring untuk memasuki sebuah kantor yang memiliki arsitek yang hampir serupa dengan bangunan-bangunan yang lainnya.
Kemudian mereka di persilakan untuk memasuki sebuah ruangan yang di penuhi dengan tiga buah lemari yang berbentuk seperti rak buku. Tersusun buku-buku mulai dari seputar Sulawesi hingga buku-buku dari luar Sulawesi.  Di tengahnya, terdapat sebuah meja berbentuk persegi panjang dengan panjang sekitar dua meter dan di kelilingi oleh kursi-kursi layaknya sebuah meja rapat. Meja itu di cat menggunakan cat minyak coklat. Ruangan itu berbentuk segi empat kira-kira seluas 4 x 3,5 meter. Bapak yang biasa di sapa nasir itu mempersilakan mahasiswi itu duduk dan memulai mengajukan pertanyaan.
Pangeran diponegoro adalah pahlawan dari Indonesia, ujarya memulai cerita. Sambil menyalakan sebatang rokok. . Oleh belanda di ajak untuk berunding lalu di tangkap, lalu diasingkan ke manado kemudian dari manado, belanda  merasa kurang aman akhirnya pangeran diponegoro di asingkan di sini, di benteng roterdam. Selama kurang lebih 21 tahun. Dari tahun 1834-1845. Kisah itu terpotong, sebuah pertanyaan lain muncul dari seorang mahasiswi yang bernama marwah.
Politik belanda memang begitu, sering hanu, menipu orang. Selama 21 tahun pangeran di ponegoro di tawan di benteng roterdam, pangeran diponegoro itu sangat berpengaruh di pulau jawa, Jogjakarta. Sehingga belanda takut, jangan sampai dia menghasut rakyat untuk melakukan perlawanan sehingga diasingkan ke Makassar. Ketika pangeran diponegoro di tahan, benteng roterdam ini sedang di kuasai oleh belanda. Kenangnya kemudian. Laki-laki itu mengisap kembali batang rokoknya dan menaruh tangannya sejajar dengan dadanya.

feature



NURRAHMAH
JURNALISTIK A
50500113003

NONTON FILM “bukan” BOMBE
Kamis, 6 november 2014.
Mendung, tak ada matahari. Ia tampak malu-malu mengusir awan pada langit biru. “Bapak tunggu  Setengah lima di MP lantai 3 studio 21. Pesan diterima pukul 16:26:48.”
Motor-motor itu berjejer dengan rapi, seorang perempuan muda memasang kedua matanya untuk mencari celah dari jajaran motor itu, setelah menarik sebuah kertas dari mesin. “Pegang ini,” serunya pada teman yang di boncengnya. “Jangan sampai hilang,” tambahnya. “Kenapa kalau hilang,” Tanya temannya polos. “Nanti bayarannya lebih mahal” Jawabnya, tanpa menghilangkan fokusnya. Ia pun memarkirkan motornya di depan lotte mart.
Setelah sekian lama menunggu, muncul pula dua orang perempuan lainnya. Satunya kurus tinggi dan satunya gemuk dan imut. Mereka berempat akhirnya, menelusuri jalan sempit yang disisakan para motor itu, menuju pintu masuk gedung yang menculang langit itu, mall panakukkang. Penjual makanan berjejer di luar gedung itu, mulai dari penjual bakso, roti sampai risolles dan donat di jajakan.
Pintu masuk itu, di jaga oleh seorang satpam, satpam itu memiliki postur tubuh yang tinggi dan terlihat lebih muda dari satpam-satpam biasanya. Keempat mahasiswa itu melewatinya begitu saja. Namun, tiba-tiba satpam itu menarik sebuah ransel yang ada di punggung gadis itu, begitu lembut. Tapi cukup membuatnya kaget untuk berhenti. Lalu, satpam itu menggunakan sebuah alat yang sedari tadi digengamnya, menyisir ransel itu dari ujung atas sampai ujung bawah. Sementara gadis yang mempunyai ransel itu, merasakan deg-degan yang luar biasa. Ini pertama kali dalam hidupnya, tasnya di scan layaknya memeriksa sebuah bom seperti yang ia lihat di TV. Begitu deg-degannya, hingga ia menarik nafas panjang dan mengelus dadanya ketika alat itu hanya berbunyi klik dan dibiarkan oleh satpam itu untuk pergi. Keempat gadis itu adalah mahasiswi UIN alauddin Makassar, yang hari ini rencananya mereka akan nonton bareng film bersama teman sekelasnya dan dosen mereka yang mengajar teknik sinematografi, pak asnawin. Mahasiswi itu adalah sukmawati yang membonceng nurrahmah yang memakai ransel dan fatmawati yang kurus dan tinggi yang membonceng riezha Amelia yang gemuk dan imut.
Mereka terus melangkah, menyusuri setiap lorong dari gedung itu, mecari studio 21. Tempat yang telah di janjikan untuk bertemu, matahari seakan menghilang, ia benar-benar tidak ingin menampakkan wajahnya. Mendung, awan benar-benar telah menang. Sementara jam sudah menunjukkan jam lima lewat, sudah lewat dari perjanjian yang seharusnya pukul 16:30. Mereka telah sampai di studio 21. Satu lagi satpam penjaga, kali ini peraturannya begitu ketat, tidak boleh membawa makanan maupun minuman ke dalam studio. Sehingga seorang gadis yang memakai ransel itu terpaksa menarik keluar botol minuman aquanya yang tinggal setengah. Padahal haus sebentar lagi mendera kerongkongannya.
Teman-teman yang lainnya telah hadir lebih dulu, dan mereka telah memenuhi sebuah sofa yang ada di studio itu. Sofa yang bersandar pada dinding ruangan itu sepanjang kurang lebih satu meter. Ia melihat ketua kelasnya, kurus dan jangkung itu, menghampirinya. Dan seulas senyum mengembang kemudian.
Gadis berransel itu akhirnya menyadarkan tubuhnya pada sofa itu, rasa lelah akhirnya menjatuhkannya juga.  Gadis berransel itu biasa di sapa rahmah malam itu mengenakkan baju biru dan jilbab biru serta rok hijau motif bunga-bunga. “Jam berapa nontonnya,” Tanyanya. “Nanti habis magrib,” Jawab ketua tingkatnya. “Rahmah… rahmah,” tiba-tiba teman yang tadi datang bersamanya memanggilnya. “iya,”. “Uangmu ada berapa?”. “Ada kira-kira seratus lebih,” jawabnya ragu-ragu. “Bisa pinjamkan dulu, untuk beli tiketnya sukma sama novi.” “Oke-oke,” ia pun mengeluarkan selembar  uang warna merah dan selembar uang warna biru dari dompetnya.
Diskusi-diskusi kecil pun terjadi antara teman-teman dan ketua tingkat, film apa yang akan ditonton malam ini bahkan belum diputuskan, ada yang menawarkan film bombe, film buatan orang-orang Makassar yang sedang fenomenal. Kesepakatan belum juga didapatkan. Kemudian mereka digiring menuju studio XXI. Membutuhkan sebuah lift untuk mengangkut mahasiswa itu. Sementara tiga lainnya yang tak mau menunggu akhirnya memilih untuk menggunakan tangga darurat.
Dalam hitungan beberapa menit saja, lift itu telah sampai di studio XXI, ruangan itu berlantaikan karpet berbulu yang halus yang bahkan terlalu disayangkan untuk diinjakkan dengan sebuah sepatu. Pantas saja, dinamakan studio paling mahal bayarannya. Lagi-lagi, pemeriksaan tas dilakukan lebih-lebih pada yang berjenis ransel. Seolah-olah ransel lebih identik dengan sebuah tas bom.
Waktu benar-benar lewat dari yang telah dijanjikan, magrib telah usai. Perut mulai bernyanyi ria minta untuk di isi.
“Rahmah, sini.” “hah, apa.” “Sini!” “bagaimana nanti.” “Nanti?” “Iya, nanti?” “Kita pulangnya jam 9,” “hahhh, kok jam 9 sih.” “iya, terus bagaimana nanti, kamu mau tidur dimana? Masah aku ke samata sihh, malam-malam lagi.” Rahmah hanya diam, baginya tak masalah dimana pun itu, pasalnya besok tidak ada jadwal kuliah. “antar saja aku ke alauddin,” ujarnya kemudian. “ada kost teman-temanku di sana.” Semuanya menggangguk setuju.
Sebuah kertas warna kuning sudah dalam gengaman, PANAKKUKANG interstellar tertulis di dalamnya termasuk waktu dan tanggal yang di tulis singkat dengan bahasa inggris. Rahmah melangkah maju, menghampiri temannya yang sedang berdiri di depan kasir sambil membaca buku. “Film apa yang kita nonton nanti?” “Itu, interstellar.” Sambil menunjuk foto seorang pria yang berada di tengah salju, yang ada di sampingnya. Ia memeriksa kembali tiketnya, time : 19:15, tertulis di dalamnya.
Ia dan teman-temannya sudah berada dalam studio itu, ia mendapatkan kursi huruf G deretan ke 7. Nonton film yang harus meronggoh konceng sebesar 40.000. iklan-iklanpun di tayangkan termasuk promosi film “jokowi adalah kita”.
Lampu ruangan itu dimatikan, gelap. Layar di hadapannya semakin mendekat. Hanya ada satu cahaya, yaitu dari proyektor itu. Suasana dingin, hampir membuatnya mengigil, tak ada jaket yang di bawanya. Ia pun menarik lengan baju teman yang ada di samping kirinya, “ehh, dingin nih minta jaketmu sekalian ambilkan selimut!.” Nyatanya temannya itu hanya tersenyum dan kembali focus pada apa yang ada di hadapannya.
Pria itu bernama cooper, seorang penjelajah ruang angkasa. Karena ingin menyelamatkan generasi manusia, ia harus menjelajahi ruang angkasa bersama Dr. brand kedua kawannya untuk mencari tempat yang bisa dijadikan tempat tinggal. Sampailah mereka di planetnya Dr. mann, planet yang hanya serua dengan benua kutub utara. Salju, gunung es dan tidak ada daratan yang kering. Mereka menemukan Dr. mann, setelah sekian lama tertidur. Dari informasi Dr. mann, akhirnya Dr. mann dan cooper pergi ke tempat yang katanya Dr. mann cocok membuat markas. Hanya mereka berdua, di sebuah lembah. Tiba-tiba, Dr. mann menarik alat komunikasi cooper yang ada di helmnya. Konflik pun terjadi, Dr. mann yang dengan egoisnya ingin pulang ke bumi dengan niat membunuh cooper, sementara cooper yang memang tujuannya untuk keselamatan umat manusia merasa di bohongin oleh data-data dari Dr. mann. Perkelahian pun terjadi di antara keduanya, yang menyebabkan helm cooper pecah. Dr. mann tanpa memperdulikannya cooper pergi begitu saja. Cooper kehilangan banyak oksigen,dengan susah payah ia meraih kembali alat komunikasi itu.
Proses penyelamatan hidup umat manusia, nyatanya ada keegoisan dari manusia itu sendiri yang berujung pada kerugiannya sendiri. Di tengah planet yang bersalju itu, tak adakah pikiran untuk bekerja sama. Egoistis, lagi-lagi menghancurkan manusia. Dan menjadikan teman yang dengan susah payah telah sampai pada tempat itu menjadi korban, kenapa tidak mencoba menjadi jujur?. Manusia? Mengapa berbeda satu sama lain.
Ledakan besar itu menarik kembali fokusnya, begitu menghantam jantungnya. Ledakan besar dari pesawat yang di bawa kabur oleh Dr. mann.
Waktu tiga jam, tak terasa. Film itu masih meninggalkan rasa penasaran dalam hatinya, Dr. brand dan cooper akankah cinta itu akan ditemukan lagi. Mereka melangkah keluar, kali ini mereka menggunakan tangga darurat. Tempat-tempat belanjaan telah di tutup. Mall itu terlihat sepi, hanya ada beberapa motor dan mobil yang masih terparkir. Angin malam lagi-lagi menusuk tulangnya dengan ransel di punggungnya, ia melangkah di belakang dosennya yang sedang mengobrol dengan salah seorang temannya.

Jumat, 11 April 2014

sang kemeja hijau

aku gundah malam ini,
tak satupun inboxnya termaktub dalam ponselku,
aku gundah malam ini,
ketika ku mulai ragu kan pernyataanmu itu,
melamarku dihadapan ayahku,,,
aku gundah malam ini,,
ketika ku mulai menyadari,,
kata-kata itu hanyalah dimiliki anak-anak ingusanyang bahkan tak tahu jalan pulang,,
aku gundah malam ini,,
ketika sadar dalam kyala ini,
janji itu hanyalah permainan bahasa ABG2 dunia maya,
sedangku tahu bahwa kau dan dirinya masih dalam ikatan tak sempurna,,,
aku gundah malam ini,,
ketika rasio ku tak mampu benarkan kata-kata itu,,
kala bahkan aku rindu saat bersamamu,,
aku semakin gundah malam ini,,,
ketika waktu mulai menjawab tanya dalam hati 
            
rahmah dan gelisah
kinyoubi,11/04/2014



14/09/2014. 7:17


Dia bahkan tidak peduli, tidak mau membalas pesan itu. Walau tanyaku itu hanya seputar nama dosen, ahhkkk aku memang bodoh, menganggapnya lebih dari yang lain, menganggapnya istimewa dan luar biasa. Bahkan untuk mengetik beberapa huruf itu saja, ia enggan. Setidaknya untuk seorang teman seperti, aku. Ahkkk, haruskah ku hitung seberapa besar kepedulianku padanya, agar ia tergugah hatinya untuk membalas pesan itu, tapi aku bukan orang yang terlalu pandai menghitung pengeluaran. Sementara, sesak nafasku kian bertambah parah. Andaikan aku sedikit lebih peduli dengan nama dosen-dosenku, aku bahkan tak akan meminta apapun dari mu. Tidak sama sekali, hanya saja itulah kelemahanku. Tidak memperdulikan hal-hal yang menurutku kecil. Kau tahu, kau adalah hal besar dalam hidupku, hingga ku menempatkanmu dalam posisi kesekian dalam hidupku. Pentingkah itu buatmu, kenapa aku peduli pada orang lain? Sementara tak satupun yang akan menggubrisku. Aku tidak peduli, tidak … tidak akan sesakit dulu. Aku telah kebal, atau apa karena aku orang asing? Untukmu?.  KEMEJA HIJAU. Haruskah aku membencimu? Atau membalas dendam atas kekesalan hati ini, aku membencimu. Tidak ingin bertemu denganmu esok ataupun hari ini. Mengapa? Lagi-lagi! Ketika di saat-saat penting seperti ini, justru malaikat-malaikat itu pergi menjauh. Kemana perginya, sayap-sayap lembut dan halus itu? Tak ada satupun bulu yang ia sisakan untukku. Apa jaminannya, haruskah aku berpikir positif lagi bila hal-hal negative it uterus berkeliaran begitu saja disekelilingku. Biarkan cinta itu berubah menjadi dendam,

Puisi

aku ada dalam ketiadaan,
melupakan asa yang tak pernah ada,
aku bahkan tak mengerti apa yang aku rasa,
semuanya bagai dalam genggaman pasir,
bagai bara dalam air,
tak terbakar ,tak jua padam.
*****
aku mulai ragu pada sinar  mentari,
aku mulai ragu pada sejuknya embun
dan aku mulai ragu pada sajak2 kasih yang terucap.

aku tidak mengerti tentang jalan pikiran seseorang, padahal aku sangat ingin memahami apa yang tengah mereka pikirkan. sekalipun itu mungkin saja tentang aku yang selalu saja mengabaikan perjatian mereka. yang sebenarnya adalah aku tidak benar-benar ingin mengabaikan mereka, hanya saja aku terlalu takut untuk mengatakan betapa orang-orang itu sangat berarti dalam hidupku