NURRAHMAH
JURNALISTIK A
50500113003
NONTON
FILM “bukan” BOMBE
Kamis, 6 november 2014.
Mendung, tak ada
matahari. Ia tampak malu-malu mengusir awan pada langit biru. “Bapak
tunggu Setengah lima di MP lantai 3
studio 21. Pesan diterima pukul 16:26:48.”
Motor-motor
itu berjejer dengan rapi, seorang perempuan muda memasang kedua matanya untuk
mencari celah dari jajaran motor itu, setelah menarik sebuah kertas dari mesin.
“Pegang ini,” serunya pada teman yang di boncengnya. “Jangan sampai hilang,”
tambahnya. “Kenapa kalau hilang,” Tanya temannya polos. “Nanti bayarannya lebih
mahal” Jawabnya, tanpa menghilangkan fokusnya. Ia pun memarkirkan motornya di
depan lotte mart.
Setelah
sekian lama menunggu, muncul pula dua orang perempuan lainnya. Satunya kurus
tinggi dan satunya gemuk dan imut. Mereka berempat akhirnya, menelusuri jalan
sempit yang disisakan para motor itu, menuju pintu masuk gedung yang menculang
langit itu, mall panakukkang. Penjual makanan berjejer di luar gedung itu,
mulai dari penjual bakso, roti sampai risolles dan donat di jajakan.
Pintu
masuk itu, di jaga oleh seorang satpam, satpam itu memiliki postur tubuh yang
tinggi dan terlihat lebih muda dari satpam-satpam biasanya. Keempat mahasiswa
itu melewatinya begitu saja. Namun, tiba-tiba satpam itu menarik sebuah ransel
yang ada di punggung gadis itu, begitu lembut. Tapi cukup membuatnya kaget
untuk berhenti. Lalu, satpam itu menggunakan sebuah alat yang sedari tadi
digengamnya, menyisir ransel itu dari ujung atas sampai ujung bawah. Sementara
gadis yang mempunyai ransel itu, merasakan deg-degan yang luar biasa. Ini
pertama kali dalam hidupnya, tasnya di scan layaknya memeriksa sebuah bom
seperti yang ia lihat di TV. Begitu deg-degannya, hingga ia menarik nafas
panjang dan mengelus dadanya ketika alat itu hanya berbunyi klik dan dibiarkan
oleh satpam itu untuk pergi. Keempat gadis itu adalah mahasiswi UIN alauddin
Makassar, yang hari ini rencananya mereka akan nonton bareng film bersama teman
sekelasnya dan dosen mereka yang mengajar teknik sinematografi, pak asnawin.
Mahasiswi itu adalah sukmawati yang membonceng nurrahmah yang memakai ransel
dan fatmawati yang kurus dan tinggi yang membonceng riezha Amelia yang gemuk
dan imut.
Mereka
terus melangkah, menyusuri setiap lorong dari gedung itu, mecari studio 21.
Tempat yang telah di janjikan untuk bertemu, matahari seakan menghilang, ia
benar-benar tidak ingin menampakkan wajahnya. Mendung, awan benar-benar telah
menang. Sementara jam sudah menunjukkan jam lima lewat, sudah lewat dari perjanjian
yang seharusnya pukul 16:30. Mereka telah sampai di studio 21. Satu lagi satpam
penjaga, kali ini peraturannya begitu ketat, tidak boleh membawa makanan maupun
minuman ke dalam studio. Sehingga seorang gadis yang memakai ransel itu
terpaksa menarik keluar botol minuman aquanya yang tinggal setengah. Padahal
haus sebentar lagi mendera kerongkongannya.
Teman-teman
yang lainnya telah hadir lebih dulu, dan mereka telah memenuhi sebuah sofa yang
ada di studio itu. Sofa yang bersandar pada dinding ruangan itu sepanjang
kurang lebih satu meter. Ia melihat ketua kelasnya, kurus dan jangkung itu,
menghampirinya. Dan seulas senyum mengembang kemudian.
Gadis
berransel itu akhirnya menyadarkan tubuhnya pada sofa itu, rasa lelah akhirnya
menjatuhkannya juga. Gadis berransel itu
biasa di sapa rahmah malam itu mengenakkan baju biru dan jilbab biru serta rok
hijau motif bunga-bunga. “Jam berapa nontonnya,” Tanyanya. “Nanti habis
magrib,” Jawab ketua tingkatnya. “Rahmah… rahmah,” tiba-tiba teman yang tadi
datang bersamanya memanggilnya. “iya,”. “Uangmu ada berapa?”. “Ada kira-kira
seratus lebih,” jawabnya ragu-ragu. “Bisa pinjamkan dulu, untuk beli tiketnya
sukma sama novi.” “Oke-oke,” ia pun mengeluarkan selembar uang warna merah dan selembar uang warna biru
dari dompetnya.
Diskusi-diskusi
kecil pun terjadi antara teman-teman dan ketua tingkat, film apa yang akan
ditonton malam ini bahkan belum diputuskan, ada yang menawarkan film bombe,
film buatan orang-orang Makassar yang sedang fenomenal. Kesepakatan belum juga
didapatkan. Kemudian mereka digiring menuju studio XXI. Membutuhkan sebuah lift
untuk mengangkut mahasiswa itu. Sementara tiga lainnya yang tak mau menunggu
akhirnya memilih untuk menggunakan tangga darurat.
Dalam
hitungan beberapa menit saja, lift itu telah sampai di studio XXI, ruangan itu
berlantaikan karpet berbulu yang halus yang bahkan terlalu disayangkan untuk
diinjakkan dengan sebuah sepatu. Pantas saja, dinamakan studio paling mahal
bayarannya. Lagi-lagi, pemeriksaan tas dilakukan lebih-lebih pada yang berjenis
ransel. Seolah-olah ransel lebih identik dengan sebuah tas bom.
Waktu
benar-benar lewat dari yang telah dijanjikan, magrib telah usai. Perut mulai bernyanyi
ria minta untuk di isi.
“Rahmah,
sini.” “hah, apa.” “Sini!” “bagaimana nanti.” “Nanti?” “Iya, nanti?” “Kita
pulangnya jam 9,” “hahhh, kok jam 9 sih.” “iya, terus bagaimana nanti, kamu mau
tidur dimana? Masah aku ke samata sihh, malam-malam lagi.” Rahmah hanya diam,
baginya tak masalah dimana pun itu, pasalnya besok tidak ada jadwal kuliah.
“antar saja aku ke alauddin,” ujarnya kemudian. “ada kost teman-temanku di
sana.” Semuanya menggangguk setuju.
Sebuah
kertas warna kuning sudah dalam gengaman, PANAKKUKANG interstellar tertulis di
dalamnya termasuk waktu dan tanggal yang di tulis singkat dengan bahasa
inggris. Rahmah melangkah maju, menghampiri temannya yang sedang berdiri di
depan kasir sambil membaca buku. “Film apa yang kita nonton nanti?” “Itu, interstellar.”
Sambil menunjuk foto seorang pria yang berada di tengah salju, yang ada di
sampingnya. Ia memeriksa kembali tiketnya, time : 19:15, tertulis di dalamnya.
Ia
dan teman-temannya sudah berada dalam studio itu, ia mendapatkan kursi huruf G
deretan ke 7. Nonton film yang harus meronggoh konceng sebesar 40.000.
iklan-iklanpun di tayangkan termasuk promosi film “jokowi adalah kita”.
Lampu
ruangan itu dimatikan, gelap. Layar di hadapannya semakin mendekat. Hanya ada
satu cahaya, yaitu dari proyektor itu. Suasana dingin, hampir membuatnya
mengigil, tak ada jaket yang di bawanya. Ia pun menarik lengan baju teman yang
ada di samping kirinya, “ehh, dingin nih minta jaketmu sekalian ambilkan
selimut!.” Nyatanya temannya itu hanya tersenyum dan kembali focus pada apa
yang ada di hadapannya.
Pria
itu bernama cooper, seorang penjelajah ruang angkasa. Karena ingin
menyelamatkan generasi manusia, ia harus menjelajahi ruang angkasa bersama Dr.
brand kedua kawannya untuk mencari tempat yang bisa dijadikan tempat tinggal. Sampailah
mereka di planetnya Dr. mann, planet yang hanya serua dengan benua kutub utara.
Salju, gunung es dan tidak ada daratan yang kering. Mereka menemukan Dr. mann,
setelah sekian lama tertidur. Dari informasi Dr. mann, akhirnya Dr. mann dan
cooper pergi ke tempat yang katanya Dr. mann cocok membuat markas. Hanya mereka
berdua, di sebuah lembah. Tiba-tiba, Dr. mann menarik alat komunikasi cooper
yang ada di helmnya. Konflik pun terjadi, Dr. mann yang dengan egoisnya ingin
pulang ke bumi dengan niat membunuh cooper, sementara cooper yang memang tujuannya
untuk keselamatan umat manusia merasa di bohongin oleh data-data dari Dr. mann.
Perkelahian pun terjadi di antara keduanya, yang menyebabkan helm cooper pecah.
Dr. mann tanpa memperdulikannya cooper pergi begitu saja. Cooper kehilangan
banyak oksigen,dengan susah payah ia meraih kembali alat komunikasi itu.
Proses
penyelamatan hidup umat manusia, nyatanya ada keegoisan dari manusia itu
sendiri yang berujung pada kerugiannya sendiri. Di tengah planet yang bersalju
itu, tak adakah pikiran untuk bekerja sama. Egoistis, lagi-lagi menghancurkan
manusia. Dan menjadikan teman yang dengan susah payah telah sampai pada tempat
itu menjadi korban, kenapa tidak mencoba menjadi jujur?. Manusia? Mengapa
berbeda satu sama lain.
Ledakan
besar itu menarik kembali fokusnya, begitu menghantam jantungnya. Ledakan besar
dari pesawat yang di bawa kabur oleh Dr. mann.
Waktu
tiga jam, tak terasa. Film itu masih meninggalkan rasa penasaran dalam hatinya,
Dr. brand dan cooper akankah cinta itu akan ditemukan lagi. Mereka melangkah
keluar, kali ini mereka menggunakan tangga darurat. Tempat-tempat belanjaan
telah di tutup. Mall itu terlihat sepi, hanya ada beberapa motor dan mobil yang
masih terparkir. Angin malam lagi-lagi menusuk tulangnya dengan ransel di
punggungnya, ia melangkah di belakang dosennya yang sedang mengobrol dengan
salah seorang temannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar