Kamis, 27 November 2014

feature



NURRAHMAH
JURNALISTIK A
50500113003

NONTON FILM “bukan” BOMBE
Kamis, 6 november 2014.
Mendung, tak ada matahari. Ia tampak malu-malu mengusir awan pada langit biru. “Bapak tunggu  Setengah lima di MP lantai 3 studio 21. Pesan diterima pukul 16:26:48.”
Motor-motor itu berjejer dengan rapi, seorang perempuan muda memasang kedua matanya untuk mencari celah dari jajaran motor itu, setelah menarik sebuah kertas dari mesin. “Pegang ini,” serunya pada teman yang di boncengnya. “Jangan sampai hilang,” tambahnya. “Kenapa kalau hilang,” Tanya temannya polos. “Nanti bayarannya lebih mahal” Jawabnya, tanpa menghilangkan fokusnya. Ia pun memarkirkan motornya di depan lotte mart.
Setelah sekian lama menunggu, muncul pula dua orang perempuan lainnya. Satunya kurus tinggi dan satunya gemuk dan imut. Mereka berempat akhirnya, menelusuri jalan sempit yang disisakan para motor itu, menuju pintu masuk gedung yang menculang langit itu, mall panakukkang. Penjual makanan berjejer di luar gedung itu, mulai dari penjual bakso, roti sampai risolles dan donat di jajakan.
Pintu masuk itu, di jaga oleh seorang satpam, satpam itu memiliki postur tubuh yang tinggi dan terlihat lebih muda dari satpam-satpam biasanya. Keempat mahasiswa itu melewatinya begitu saja. Namun, tiba-tiba satpam itu menarik sebuah ransel yang ada di punggung gadis itu, begitu lembut. Tapi cukup membuatnya kaget untuk berhenti. Lalu, satpam itu menggunakan sebuah alat yang sedari tadi digengamnya, menyisir ransel itu dari ujung atas sampai ujung bawah. Sementara gadis yang mempunyai ransel itu, merasakan deg-degan yang luar biasa. Ini pertama kali dalam hidupnya, tasnya di scan layaknya memeriksa sebuah bom seperti yang ia lihat di TV. Begitu deg-degannya, hingga ia menarik nafas panjang dan mengelus dadanya ketika alat itu hanya berbunyi klik dan dibiarkan oleh satpam itu untuk pergi. Keempat gadis itu adalah mahasiswi UIN alauddin Makassar, yang hari ini rencananya mereka akan nonton bareng film bersama teman sekelasnya dan dosen mereka yang mengajar teknik sinematografi, pak asnawin. Mahasiswi itu adalah sukmawati yang membonceng nurrahmah yang memakai ransel dan fatmawati yang kurus dan tinggi yang membonceng riezha Amelia yang gemuk dan imut.
Mereka terus melangkah, menyusuri setiap lorong dari gedung itu, mecari studio 21. Tempat yang telah di janjikan untuk bertemu, matahari seakan menghilang, ia benar-benar tidak ingin menampakkan wajahnya. Mendung, awan benar-benar telah menang. Sementara jam sudah menunjukkan jam lima lewat, sudah lewat dari perjanjian yang seharusnya pukul 16:30. Mereka telah sampai di studio 21. Satu lagi satpam penjaga, kali ini peraturannya begitu ketat, tidak boleh membawa makanan maupun minuman ke dalam studio. Sehingga seorang gadis yang memakai ransel itu terpaksa menarik keluar botol minuman aquanya yang tinggal setengah. Padahal haus sebentar lagi mendera kerongkongannya.
Teman-teman yang lainnya telah hadir lebih dulu, dan mereka telah memenuhi sebuah sofa yang ada di studio itu. Sofa yang bersandar pada dinding ruangan itu sepanjang kurang lebih satu meter. Ia melihat ketua kelasnya, kurus dan jangkung itu, menghampirinya. Dan seulas senyum mengembang kemudian.
Gadis berransel itu akhirnya menyadarkan tubuhnya pada sofa itu, rasa lelah akhirnya menjatuhkannya juga.  Gadis berransel itu biasa di sapa rahmah malam itu mengenakkan baju biru dan jilbab biru serta rok hijau motif bunga-bunga. “Jam berapa nontonnya,” Tanyanya. “Nanti habis magrib,” Jawab ketua tingkatnya. “Rahmah… rahmah,” tiba-tiba teman yang tadi datang bersamanya memanggilnya. “iya,”. “Uangmu ada berapa?”. “Ada kira-kira seratus lebih,” jawabnya ragu-ragu. “Bisa pinjamkan dulu, untuk beli tiketnya sukma sama novi.” “Oke-oke,” ia pun mengeluarkan selembar  uang warna merah dan selembar uang warna biru dari dompetnya.
Diskusi-diskusi kecil pun terjadi antara teman-teman dan ketua tingkat, film apa yang akan ditonton malam ini bahkan belum diputuskan, ada yang menawarkan film bombe, film buatan orang-orang Makassar yang sedang fenomenal. Kesepakatan belum juga didapatkan. Kemudian mereka digiring menuju studio XXI. Membutuhkan sebuah lift untuk mengangkut mahasiswa itu. Sementara tiga lainnya yang tak mau menunggu akhirnya memilih untuk menggunakan tangga darurat.
Dalam hitungan beberapa menit saja, lift itu telah sampai di studio XXI, ruangan itu berlantaikan karpet berbulu yang halus yang bahkan terlalu disayangkan untuk diinjakkan dengan sebuah sepatu. Pantas saja, dinamakan studio paling mahal bayarannya. Lagi-lagi, pemeriksaan tas dilakukan lebih-lebih pada yang berjenis ransel. Seolah-olah ransel lebih identik dengan sebuah tas bom.
Waktu benar-benar lewat dari yang telah dijanjikan, magrib telah usai. Perut mulai bernyanyi ria minta untuk di isi.
“Rahmah, sini.” “hah, apa.” “Sini!” “bagaimana nanti.” “Nanti?” “Iya, nanti?” “Kita pulangnya jam 9,” “hahhh, kok jam 9 sih.” “iya, terus bagaimana nanti, kamu mau tidur dimana? Masah aku ke samata sihh, malam-malam lagi.” Rahmah hanya diam, baginya tak masalah dimana pun itu, pasalnya besok tidak ada jadwal kuliah. “antar saja aku ke alauddin,” ujarnya kemudian. “ada kost teman-temanku di sana.” Semuanya menggangguk setuju.
Sebuah kertas warna kuning sudah dalam gengaman, PANAKKUKANG interstellar tertulis di dalamnya termasuk waktu dan tanggal yang di tulis singkat dengan bahasa inggris. Rahmah melangkah maju, menghampiri temannya yang sedang berdiri di depan kasir sambil membaca buku. “Film apa yang kita nonton nanti?” “Itu, interstellar.” Sambil menunjuk foto seorang pria yang berada di tengah salju, yang ada di sampingnya. Ia memeriksa kembali tiketnya, time : 19:15, tertulis di dalamnya.
Ia dan teman-temannya sudah berada dalam studio itu, ia mendapatkan kursi huruf G deretan ke 7. Nonton film yang harus meronggoh konceng sebesar 40.000. iklan-iklanpun di tayangkan termasuk promosi film “jokowi adalah kita”.
Lampu ruangan itu dimatikan, gelap. Layar di hadapannya semakin mendekat. Hanya ada satu cahaya, yaitu dari proyektor itu. Suasana dingin, hampir membuatnya mengigil, tak ada jaket yang di bawanya. Ia pun menarik lengan baju teman yang ada di samping kirinya, “ehh, dingin nih minta jaketmu sekalian ambilkan selimut!.” Nyatanya temannya itu hanya tersenyum dan kembali focus pada apa yang ada di hadapannya.
Pria itu bernama cooper, seorang penjelajah ruang angkasa. Karena ingin menyelamatkan generasi manusia, ia harus menjelajahi ruang angkasa bersama Dr. brand kedua kawannya untuk mencari tempat yang bisa dijadikan tempat tinggal. Sampailah mereka di planetnya Dr. mann, planet yang hanya serua dengan benua kutub utara. Salju, gunung es dan tidak ada daratan yang kering. Mereka menemukan Dr. mann, setelah sekian lama tertidur. Dari informasi Dr. mann, akhirnya Dr. mann dan cooper pergi ke tempat yang katanya Dr. mann cocok membuat markas. Hanya mereka berdua, di sebuah lembah. Tiba-tiba, Dr. mann menarik alat komunikasi cooper yang ada di helmnya. Konflik pun terjadi, Dr. mann yang dengan egoisnya ingin pulang ke bumi dengan niat membunuh cooper, sementara cooper yang memang tujuannya untuk keselamatan umat manusia merasa di bohongin oleh data-data dari Dr. mann. Perkelahian pun terjadi di antara keduanya, yang menyebabkan helm cooper pecah. Dr. mann tanpa memperdulikannya cooper pergi begitu saja. Cooper kehilangan banyak oksigen,dengan susah payah ia meraih kembali alat komunikasi itu.
Proses penyelamatan hidup umat manusia, nyatanya ada keegoisan dari manusia itu sendiri yang berujung pada kerugiannya sendiri. Di tengah planet yang bersalju itu, tak adakah pikiran untuk bekerja sama. Egoistis, lagi-lagi menghancurkan manusia. Dan menjadikan teman yang dengan susah payah telah sampai pada tempat itu menjadi korban, kenapa tidak mencoba menjadi jujur?. Manusia? Mengapa berbeda satu sama lain.
Ledakan besar itu menarik kembali fokusnya, begitu menghantam jantungnya. Ledakan besar dari pesawat yang di bawa kabur oleh Dr. mann.
Waktu tiga jam, tak terasa. Film itu masih meninggalkan rasa penasaran dalam hatinya, Dr. brand dan cooper akankah cinta itu akan ditemukan lagi. Mereka melangkah keluar, kali ini mereka menggunakan tangga darurat. Tempat-tempat belanjaan telah di tutup. Mall itu terlihat sepi, hanya ada beberapa motor dan mobil yang masih terparkir. Angin malam lagi-lagi menusuk tulangnya dengan ransel di punggungnya, ia melangkah di belakang dosennya yang sedang mengobrol dengan salah seorang temannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar