Menelisik
jejak sang kesatria dari jawa di negeri maritime
Oleh
Nurrahmah
Jurnalistik
A
50500113003s
Enam mahasiswi itu
tengah mengintai sebuah penjara yang terletak bersebelahan dengan meseum la
galilio dua, sebuah bangunan yang terkesan menyendiri itu seperti sebuah
penjara, yang memiliki halaman seluas satu meter lebih dan lebar satu meter.
Tidak seperti penjara pada umumnya, penjara ini memiliki jeruji besi yang tidak
sampai setinggi orang dewasa, yang lebih mirip sebuah jendela. Pintu itu entah
terbuat baja/aluminium yang diberi sedikit motif bulat-bulat kecil. Pintu itu
memiliki dua pintu dan di kaitkan dengan gembok di tengahnya. Pada bagian
dalamnya, jika dilihat dari depan, hanya berupa ruangannya yang terhubung
dengan ruangan lain seluas 4x 1 meter dan memiliki tangga kayu untuk lantai
dua. Ruangan itu berhawa mistik dengan sebuah kuburan di dalamnya.
“ini penjara yah,”
Tanya rahmah sambil menenteng sebuah tripot.
“Iya, ini penjara,”
seru rosdiana.
“Terus mana
tahanannya,” desahnya pelan.
Enam mahasiswi itu
terus mengintai, tatkala seorang laki-laki dengan usia kisaran 50 tahun ke atas
memarkirkan motornya di samping mereka berdiri. Mahasiswi itu seakan tidak
menghiraukan kehadiran laki-laki itu. Mereka bahkan tidak beranjak dari
tempatnya semula.
“Mau ka masuk ke
dalam,” ujar rosdiana kemudian.
“Terus harus lewat
mana, masah mau lewat museum itu, mahal tahu karcisnya,” ngerutu rahmah.
“Mau ka lihat-lihat
di dalam ew,” seru rosdiana lagi.
Tiba-tiba laki-laki
itu, laki-laki yang memiliki kulit sawo matang gelap memakai sebuah kaca mata,
entah minus atau plus dan berseragamkan batik motif biru. berdiri di samping
kirinya rosdiana.
“Mau masuk ke dalam
penjara ini,” ujarnya kemudian.
“Iya pak- iya pak,
bagaimana caranya,” Jawab rosdiana dengan penuh semangat.
Bapak itu tersenyum
tipis, “saya masukkan kalian ke dalam penjara tapi jangan harap kalian bisa
keluar lagi.”
“Hahhhhh!!,” seru
mahasiswi itu hampir serentak. “kenapa begitu pak,” rosdiana menyela. “Yah,
karena orang yang masuk ke dalam penjara tidak akan bisa keluar lagi” Jawabnya
santai. “Kamu tidak lihat, mana ada
orang yang masuk penjara ini.”
Kemudian laki-laku itu
berlalu meninggalkan ke enam mahasiswi yang masih diam mematung dari tempatnya. Namun, tiba-tiba rosdiana
mnghentikan langkah bapak itu.
“Pak pak…, bapak
kerja di sini?”
“Iya, saya kerja di
sini”
“Sudah berapa lama
pak”
“Kira-kira dua puluh
tahunan lah”
“Ohh, sudah lama
yah.”
“Oh iya pak, boleh
gak kita Tanya-tanya.”
“Tanya-tanya tentang
apa?”
“Tanya-tanya tentang
ini pak, benteng roterdam.”
“Oh, boleh-boleh. Ayo
silakan.”
“Cari tempat dulu pak
dimana gitu yang bagus untuk duduk-duduk dan ngobrol.”
“Ohhh, di kantor saya
saja. Di sini,” sambil menunjuk sebuah bangunan yang bersebelahan dengan
penjara tersebut.
Merekapun di giring
untuk memasuki sebuah kantor yang memiliki arsitek yang hampir serupa dengan
bangunan-bangunan yang lainnya.
Kemudian mereka di
persilakan untuk memasuki sebuah ruangan yang di penuhi dengan tiga buah lemari
yang berbentuk seperti rak buku. Tersusun buku-buku mulai dari seputar Sulawesi
hingga buku-buku dari luar Sulawesi. Di
tengahnya, terdapat sebuah meja berbentuk persegi panjang dengan panjang
sekitar dua meter dan di kelilingi oleh kursi-kursi layaknya sebuah meja rapat.
Meja itu di cat menggunakan cat minyak coklat. Ruangan itu berbentuk segi empat
kira-kira seluas 4 x 3,5 meter. Bapak yang biasa di sapa nasir itu mempersilakan
mahasiswi itu duduk dan memulai mengajukan pertanyaan.
Pangeran diponegoro
adalah pahlawan dari Indonesia, ujarya memulai cerita. Sambil menyalakan
sebatang rokok. . Oleh belanda di ajak untuk berunding lalu di tangkap, lalu
diasingkan ke manado kemudian dari manado, belanda merasa kurang aman akhirnya pangeran
diponegoro di asingkan di sini, di benteng roterdam. Selama kurang lebih 21
tahun. Dari tahun 1834-1845. Kisah itu terpotong, sebuah pertanyaan lain muncul
dari seorang mahasiswi yang bernama marwah.
Politik belanda
memang begitu, sering hanu, menipu orang. Selama 21 tahun pangeran di ponegoro
di tawan di benteng roterdam, pangeran diponegoro itu sangat berpengaruh di
pulau jawa, Jogjakarta. Sehingga belanda takut, jangan sampai dia menghasut
rakyat untuk melakukan perlawanan sehingga diasingkan ke Makassar. Ketika
pangeran diponegoro di tahan, benteng roterdam ini sedang di kuasai oleh
belanda. Kenangnya kemudian. Laki-laki itu mengisap kembali batang rokoknya dan
menaruh tangannya sejajar dengan dadanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar