Kamis, 27 November 2014

KOMUNIKASI



TUGAS INDIVIDU
MK : TEORI KOMUNIKASI

MAKALAH
LEVEL/KONTEKS KOMUNIKASI
KOMUNIKASI MASSA






DI SUSUN OLEH:
NURRAHMAH
50500113003
JURNALISTIK A

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN
MAKASSAR
2014/2015



KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada kita semua. Dan karena rahmatNya itulah, saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “KOMUNIKASI MASSA” dari judul makalah yang sebelumnya pernah diberikan, yaitu “LEVEL/KONTEKS KOMUNIKASI”.
Makalah ini di susun sebagai tugas pengganti MID SEMESTER dan dibuat sesuai dengan intruksi yang telah diajarkan oleh dosen pengajar.
Demikianlah, saya mengucapkan terimakasih kepada dosen pengajar yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menyelesaikan makalah ini. Saya sebagai manusia biasa tidak luput dari kesalahan, begitu pula dengan makalah ini. Untuk itu, saya sangat mengharapkan masukan dari pembaca guna memperbaiki penyusunan makalah kedepannya.




Penulis,
                                                                 Makassar, 16 november 2014









DAFTAR ISI
SAMPUL.............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR.......................................................................................... ii
DAFTAR ISI........................................................................................................ iii
BAB I.................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN............................................................................................... 1
A.    Latar belakang........................................................................................... 1
B.     Rumusan masalah...................................................................................... 1
BAB II.................................................................................................................. 2
PEMBAHASAN.................................................................................................. 2
A.    Definisi komunikasi massa........................................................................ 2
B.     Karakteristik komunikasi massa................................................................ 3
C.     Model-model komunikasi massa............................................................... 5
BAB III................................................................................................................. 8
PENUTUP............................................................................................................ 8
A.    Kesimpulan................................................................................................ 8
B.     Kritik dan saran......................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA








BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Perkembangan manusia dari masa ke masa membawa dampak dari komunikasi itu sendiri. Sebelum berkembangnya era teknologi, komunikasi masih dalam bentuk tatap muka, dialog, dan mimbar-mimbar. Para komunikator maupun komunikan masih dapat bertemu, melakukan dialog. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, komunikasi tidak lagi hanya dalam bentuk tatap muka, dialog dan mimbar. Era teknologi membawa dampak pada perubahan dalam berkomunikasi, zaman sekarang orang sudah jarang bertemu. Dan kebutuhan manusia akan informasi semakin banyak, untuk memenuhi kebutuhan itu manusia mulai mengembangkan komunikasi dalam bentuk lain yang lebih efisien. Komunikasi yang tidak hanya harus bertatap muka ataupun melakukan dialog dan semacamnya. Tapi lebih dari itu, komunikasi ini bisa melalui media massa yang terorganisir menjadi satu kesatuan yang dapa menyampaikan pesan kepada komunikan yang luas secara menyeluruh. Komunikasi seperti ini dinamakan sebagai komunikasi massa, komunikasi yang terjadi walaupun komunikator dan komunikan tidak saling tatap muka.

B.     Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, kita dapat menarik rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa itu komunikasi massa?
2.      Bagaimana karakteristik komunikasi massa?
3.      Bagaimana model dalam komunikasi massa?




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi Komunikasi Massa
Herbet Blumer membuat definisi massa dengan membandingkan bentuk definisi massa dengan kehidupan sosial, khususnya kelompok, kerumunan, dan publik. Dalam sebuah kelompok, semua anggota saling mengenal satu sama lain.
Kerumunan memang  lebih besar, tapi masih bisa di amati dalam ruang tertentu, terlepas dari itu kerumunan bersifat sementara dan jarang sekali dapat di bentuk kembali seperti bnentuk yang pertama.
Public cenderung terbentuk karena adanya suatu  masalah atau sasaran tertentu dalam  kehidupan publik. Tujuannya ialah untuk memenangkan suatu kepentingan atau pandangan dan untuk mengadakan suatu perubahan politik… munculnya publik merupakan cirri demokrasi liberal modern dan berkaitan dengan munculnya surat kabar partai politik.[1]
Definisi yang di ajukan oeh bittner dalam bukunya: mass communication :  an introduction (1980), bahwa comunikasi massa adalah pesan-pesan yang di komunikasikam melalui media massa pada sejumlah besar orang.
Menurut defleur dan dennis dalam bukunya undersanting mass communication (1985), bahwa : “komunikasi massa adalah suatu proses dalam mana komunikator-komunikator menggunakan media untuk menyebarkan pesan-pesan secara luas, dan secara terus menerus mempengaruhi khlayak yang besar dan berbeda-beda dengan melalui berbagai cara.[2]
Kompleksnya komunikasi massa dikemukakan oleh severin dan tankard JR., 1992 : 3), dalam bukunya communication theories: origins, methods, and uses in the mass media yang di definisinya dierjemahkan oleh effendi sebagai berikut : “komunikasi massa adalah keterampilan, sebagian seni dan sebagian ilmu. Ia adalah keterampilan dalam pengertian bahwa ia meliputi teknik-teknik fundamental tertentu yang dapat di pelajari seperti memfokuskan kamera televisi, megoperasikan tape recorder atau memcatat ketika berwawancara. Ia adalah seni dalam pengertian bahwa ia meliputi tantangan-tantanga kreatif seperti menulis skrip untuk program televise, mengembangkan tata letak yang estetis untuk iklan majalah atau menampilkan teras berita yang memikat bagi sebuah kisah berita. Ia dalah ilmu dalam pengertian bahwa ia meliputi prinsip-prinsip tertetu tentang bagaimana berlangsungnya komunikasi yang dapat dikembangkan dan dipergunakan untuk membuat berbagai hal menjadi lebih baik”[3]
Jadi, dapat disimpulkan bahwa; komunikasi massa adalah komunikasi yang melibatkan media massa seperti surat kabar, radio, TV, internet dan media-media massa lainnya yang terorganisir oleh suatu lembaga yang merujuk pada masyarakat atau komunikan yang luas dalam skala yang besar dan dalam waktu yang hampir bersamaan.

B.     Karakteristik Komunikasi Massa
Untuk mendapatkan suatu komunikasi massa yang efektif, kita perlu tahu bagaimana karakteristik dari komunikasi massa itu sendiri. Adapun karakteristik dari komunikasi massa, yaitu:
1.      Bersifat simultan atau serempak
Bersifat simultan, ialah bahwa walaupun komunikan berada pada jarak satu sama lain terpisah. Tetapi media massa mampu membina keserempakan kontak dengan komunikan dalam penyampaian pesannya.[4]
Contohnya; penayangan siaran langsung pertandingan sepak bola. Meskipun masyarakat di Indonesia berada jauh dari tempat pertandingan sepak bola itu, namun mereka mampu menyaksikan pertandingan sepak bola secara serempak meskipun dengan waktu yang tidak bersamaan karena perubahan waktu dari daerah-daerah tersebut. Satu pesan dapat di nikmati oleh seluruh masyarakat.
2.      Bersifat umum
Ialah pesan yang di sampaikan melalui media massa ditujukan kepada umum dan di samping itu juga mengenai kepentingan umum.[5]
Pesan-pesan pada media massa difungsikan untuk membuat masyarakat tahu, salah satu fungsi media yaitu untuk control sosial dan kepentingan umum. Untuk itu, pesan dari komunikasi massa harus bersifat umum dan untuk kepentingan masyarakat. Contohnya; berita tentang perkiraan cuaca pada daerah tertentu, ini dimaksudkan agar masyarakat tahu kira-kira apa yang akan dilakukannya bila cuaca buruk ataupun cuaca stabil.
3.      Komunikannya Heterogen
Sebagai konsekuensi daripada penyebaran yang teramat luas (jangkauan audiencennya) maka komunikan dari komunikasi massa terdiri dari berbagai macam, inilah menjadikan  komunikannya heterogen.[6] Komunikan yang heterogen adalah audien atau penerima pesan yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang berbeda-beda, berbeda suku, kebutuhan, tingkat emosi dan lain-lain. Ini menyebabkan penerimaan pesan yang di kirim oleh komunikator di terima secara heterogen pula. Dan menyebabkan komunikator membuat pesan-pesan itu harus sesuai dengan tingkatan-tingkatan itu.
4.      Berlangsung Satu Arah
Ialah bahwa feedback yang terjadi adalah detayed feedback. Berbeda dengan komunikasi tatap muka.[7]
Komunikasi massa adalah komunikasi yang satu arah, komunikasi yang mengalami umpan balik atau feedback tertunda. Ini dikarenakan, komunikasi massa memiliki kedekatan fisik yang memiliki jarak yang jauh dan juga dikarenakan jumlah peserta komunikasi massa terlampau banyak sementara ia hanya di naungi oleh suatu lembaga. Memang, zaman sekarang sudah ada media-media yang memprogramkan acara-acara yang melibatkan pendengarnya tapi untuk membuat semua pendengar mengfeedback pesan yang dikirim media itu sangatlah sulit, lagi-lagi karena komunikan yang terlampau banyak.
5.      Komunikator Terlembagakan
Apabila pesan itu akan disampaikan melalui surat kabar, maka prosesnya adalah sebagai berikut: komunikator menyusun pesan dalam bentk artikel, apakah atas keinginannya atau atas permintaan media massa yang bersangkutan. Selanjutnya, pesan tersebut diperiksa oleh penanggungjawab rubric. Dari penanggungjawab rubrik diserahkan kepada redaksi untuk di periksa layak atau tidaknya pesan itu untuk dimuat dengan pertimbangan utama tidak menyalahi kebijakan dari lembaga media massa itu. Ketika suadah layak, pesan dibuat settingnya, lalu diperiksa oeh korektor, disusun oleh lay-out man agar komposisinya bagus, dibuat plate, kemudian masuk media cetak. Tahap akhir setelah dicetak merupakan tugas dari distribusi untuk mendistribusikan surat kabar yang berisi pesan itu kepada pembacanya.[8]
6.      Komunikasi Massa Mengutamakan Isi Ketimbang Hubungan
Salah satu prinsip komunikasi adalah bahwa komnikasi mempunyai dimensi isi dan dimensi hubungan. Dimensi isi menunjukkan muatan atau isi komunikasi, yaitu apa yang dikatakan, sedangkan dimensi hubungan menunjukkan bagaimana cara mengatakannya, yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para peserta komunikasi itu.
Dalam konteks kounikasi massa, komunikator tidak harus selalu kenal dengan komunikannya, dan sebaliknya. Yang penting, bagaimana seseorang komunikator menyusun secara sistematis, baik, sesuai dengan jenis medianya, agar komunikannya bisa memahami isi pesan tersebut.[9]
7.      Stimulasi alat indra terbatas
Dalam komunikasi massa, stimulasi alat indra bergantung pada jenis media massa. Pada surat kabar dan majalah, pembaca hanya melihat. Pada radio siaran dan rekaman auditif, khalayak hanya mendengar, sedangkan pada media televise dan film, kita menggunakan indra pengihatan dan pendengaran.[10]

C.     Model Komunikasi Massa
Dalam komunikasi massa, terdapat beberapa model atau bentuk dari komunikasi massa. Berikut akan dijelaskan empat model dari komunikasi massa. Keempat model itu, sebagai berikut:
1.      Model Jarum Hipodermik (Hypeodrmicc Neddle Mode)
Secara harfiah “hypodermic” berarti di bawah kulit istilah hypodermic neddle model mengandung anggapan dasar bahwa media massa menimbulkan efek yang kuat, terarah, segera dan langsung terhadap massa komunikan. Efek yang segera dan langsung itu adalah sejalan dengan pengertian “perangsang-tanggapan” (stimulus-response) sejak penelitian ilmu jiwa tahun 1930-an.. pada waktu itu, model dominan komunikasi massa di kenal sebagai teori jarum suntik”. Media massa di anggap sangat perkasa, dengan efek langsung dan segera pada khalayak.
Media massa digambarkan sebagai jarum hipodermik raksasa yang menginduksi massa komunikan yang passif. Elihu katz mengatakan bahwa model tersebut terdiri dari: (a) media sangat ampuh yang mampu memasukkan idea pada benak yang yang tidak berdaya; (b) massa komunikan yang terpecah-pecah, yang terhubungkan dengan  media massa, tetapi sebaliknya komunikasi tidak terhubungkan satu sama lain.[11]

2.      Model Komunikasi Satu Tahap (One Step Flow Mode)
Model komunikasi satu tahap menyatakan bahwa saluran media massa berkomunikasi langsung dengan massa komunikan tanpa berlalunya suatu pesan melalui pemuka pendapat (opinion leaders); tetapi pesan tersebut tidak mencapai semua komunikan dan tidak menimbulkan efek yang sama  pada setiap komunikan.
Model komunikasi satu tahap adalah model jarum hipodermik yang dimurnikan, namun model satu tahap mengakui bahwa: (a) media tidak mempunyai kekuatan yang hebat, (b) aspek dari penampilan, penerimaan, dan penahanan dalam  ingatan  yang selektif mempengaruhi suat pesan; (c) untuk setiap komunikan terjadi efek yang berbeda. Selanjutnya model satu tahap member keleluasan kepada saluran komunikasi massa untuk memancarkan efek komunikasi secara langsung.[12]

3.      Model Komunikasi Dua Tahap( Two Step Flow Mode)
Konsep komunikas dua tahap ini berasal dari lazarfeld, berelson, gaudet (1948) yang berdasarkan penelitiannya menyatakan bahwa idea-idea seringkali dating dari radio dan surat kabar yang di tangkap oleh pemuka pendapat (opinion leaders) dan dari mereka ini berlalu menuju penduduk yang kurang  giat. Tahap pertama adalah dari sumbernya, yakni komunikator yang mengirimkan pesan kepada pemuka pendapat, sedangkan tahap kedua ialah dari pemuka pendapat kepada pengikut-pengikutnya yang juga mencakup penyebaran pengaruh.
Model tahap dua ini menyebabkan kita menaruh perhatian pada peranan media massa. Berbeda dengan model jarum hipodermik yang beranggapan bahwa massa merupakan tubu dan besar yang terdiri dari orang-orang yang tak terhubungkan tetapi terkait kepada media, maka model dua tahap ini melihat massa sebagai perorangan yang berinteraksi. Ini menyebabkan penduduk terbawa kembali ke komunikasi massa. Seseorang akan memperoleh idea baru, melalui media massa. Jika ia bertukar pesan dengan temannya. Pada komnikasi massa tampak bahwa sebuah pesan dikiriman dari sumbernya. Melalui saluran media massa, menuju ke komunikan sebagai pihak penerima, yang kemudian member tanggapan kepada orang-orang yang berinteraksi dengannya.[13]

4.      Model Komunikasi Tahap Ganda (Multi Step Flow Model)
Model ini menggabungkan semua model yang telah dibicarakan sebelumnya. Model banyak tahap ini didasarkan pada fungsi penyebaran situasi komunikasi. Model ini menyatakan bahwa pengiriman pesan dari komunikator kepada komunikan melibatkan sejumlah “relay” yang berganti-ganti. Beberapa komunikan menerima pesan langsung melalui saluran dari komunikator, yang lainya berpindah dari sumbernya beberapa kali. Jumlah tahapan yang pasti dalam proses ini tergantung pada maksud tujuan komunikator, tersedianya media massa dengan kemampuan untk menyebarkannya, sifat dari pesan, dan nilai pentingnya pesan bagi komunikan.[14]








BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Komunikasi massa adalah komunikasi yang berlangsung antara dua atau lebih pelaku komunikasi yang penyampaian pesannya melalui media yang terorganisir atau terlembaga sehingga mampu mengkomunikasikan pesan kepada komunikan.
Komunikasi massa setidaknya memiliki tujuh karakteristik, yaitu:
1.      Komunikasi massa bersifat simultan atau serempak
2.      Bersifat umum
3.      Komunikannya Heterogen
4.      Berlangsung Satu Arah
5.      Komunikator Terlembagakan
6.      Komunikasi Massa Mengutamakan Isi Ketimbang Hubungan
7.      Stimulasi alat indra terbatas

Terdapat banyak model komunikasi massa, namun hanya empat yang bisa dipaparkan oleh makalah ini, keempat model komunikasi itu, yaitu:
1.      Model Jarum Hipodermik (Hypeodrmicc Neddle Mode)
2.      Model Komunikasi Satu Tahap (One Step Flow Mode)
3.      Model Komunikasi Dua Tahap( Two Step Flow Mode)
4.      Model Komunikasi Tahap Ganda (Multi Step Flow Model)

B.     Kritik dan saran
Demikianlah, isi makalah yang dapat saya paparkan. Saya hanya manusia yang tidak luput dari kesalahan, untuk itu saya sangat mengharapkan kritik maupun saran dari pembaca guna memperbaiki penyusunan makalah ini ke depannya.



                                                   DAFTAR PUSTAKA
Anshar aikil, Muhammad. Ilmu komunikasi: konstruksi, proses, level dan komunikasi kontemporer. Makassar:alauddin university perss.2012
Ardianto, elvinaro dkk. Komunikasi massa: suatu pengantar. Bandung: simbiosa rekatama media. 2009
Widjaja, H.A.W. Komunikasi: Komunikasi Dan Hubungan Masyarakat. Jakarta: Bumi aksara. 2010


[1] Anshar aikil, Muhammad. Ilmu komunikasi: konstruksi, proses, level dan komunikasi kontemporer. Makassar:alauddin university perss.2012. hlm 165-166
[2] Anshar aikil, Muhammad, hlm 168
[3] Ardianto, elvinaro dkk. Komunikasi massa: suatu pengantar. Bandung: simbiosa rekatama media. 2009. Hlm 5
[4] Widjaja, H.A.W. Komunikasi: Komunikasi Dan Hubungan Masyarakat. Jakarta: bumi aksara. 2010. Hlm 25
[5] Widjaja, H.A.W. Hlm 25
[6] Widjaja, H.A.W. Hlm 25
[7] Widjaja, H.A.W. Hlm 25
[8] Ardianto, elvinaro dkk. Hlm 7
[9] Ardianto, elvinaro dkk. Hlm 9-10
[10] Ardianto, elvinaro dkk. Hlm 11
[11] Anshar aikil, Muhammad. hlm 175-176
[12] Anshar aikil, Muhammad. hlm 177
[13] Anshar aikil, Muhammad. hlm 177-178
[14] Anshar aikil, Muhammad. hlm 179

feature



Menelisik jejak sang kesatria dari jawa di negeri maritime
Oleh
Nurrahmah
Jurnalistik A
50500113003s
Enam mahasiswi itu tengah mengintai sebuah penjara yang terletak bersebelahan dengan meseum la galilio dua, sebuah bangunan yang terkesan menyendiri itu seperti sebuah penjara, yang memiliki halaman seluas satu meter lebih dan lebar satu meter. Tidak seperti penjara pada umumnya, penjara ini memiliki jeruji besi yang tidak sampai setinggi orang dewasa, yang lebih mirip sebuah jendela. Pintu itu entah terbuat baja/aluminium yang diberi sedikit motif bulat-bulat kecil. Pintu itu memiliki dua pintu dan di kaitkan dengan gembok di tengahnya. Pada bagian dalamnya, jika dilihat dari depan, hanya berupa ruangannya yang terhubung dengan ruangan lain seluas 4x 1 meter dan memiliki tangga kayu untuk lantai dua. Ruangan itu berhawa mistik dengan sebuah kuburan di dalamnya.
“ini penjara yah,” Tanya rahmah sambil menenteng sebuah tripot.
“Iya, ini penjara,” seru rosdiana.
“Terus mana tahanannya,” desahnya pelan.
Enam mahasiswi itu terus mengintai, tatkala seorang laki-laki dengan usia kisaran 50 tahun ke atas memarkirkan motornya di samping mereka berdiri. Mahasiswi itu seakan tidak menghiraukan kehadiran laki-laki itu. Mereka bahkan tidak beranjak dari tempatnya semula.
“Mau ka masuk ke dalam,” ujar rosdiana kemudian.
“Terus harus lewat mana, masah mau lewat museum itu, mahal tahu karcisnya,” ngerutu rahmah.
“Mau ka lihat-lihat di dalam ew,” seru rosdiana lagi.
Tiba-tiba laki-laki itu, laki-laki yang memiliki kulit sawo matang gelap memakai sebuah kaca mata, entah minus atau plus dan berseragamkan batik motif biru. berdiri di samping kirinya rosdiana.
“Mau masuk ke dalam penjara ini,” ujarnya kemudian.
“Iya pak- iya pak, bagaimana caranya,” Jawab rosdiana dengan penuh semangat.
Bapak itu tersenyum tipis, “saya masukkan kalian ke dalam penjara tapi jangan harap kalian bisa keluar lagi.”
“Hahhhhh!!,” seru mahasiswi itu hampir serentak. “kenapa begitu pak,” rosdiana menyela. “Yah, karena orang yang masuk ke dalam penjara tidak akan bisa keluar lagi” Jawabnya santai.  “Kamu tidak lihat, mana ada orang yang masuk penjara ini.”
Kemudian laki-laku itu berlalu meninggalkan ke enam mahasiswi yang masih diam mematung  dari tempatnya. Namun, tiba-tiba rosdiana mnghentikan langkah bapak itu.
“Pak pak…, bapak kerja di sini?”
“Iya, saya kerja di sini”
“Sudah berapa lama pak”
“Kira-kira dua puluh tahunan lah”
“Ohh, sudah lama yah.”
“Oh iya pak, boleh gak kita Tanya-tanya.”
“Tanya-tanya tentang apa?”
“Tanya-tanya tentang ini pak, benteng roterdam.”
“Oh, boleh-boleh. Ayo silakan.”
“Cari tempat dulu pak dimana gitu yang bagus untuk duduk-duduk dan ngobrol.”
“Ohhh, di kantor saya saja. Di sini,” sambil menunjuk sebuah bangunan yang bersebelahan dengan penjara tersebut.
Merekapun di giring untuk memasuki sebuah kantor yang memiliki arsitek yang hampir serupa dengan bangunan-bangunan yang lainnya.
Kemudian mereka di persilakan untuk memasuki sebuah ruangan yang di penuhi dengan tiga buah lemari yang berbentuk seperti rak buku. Tersusun buku-buku mulai dari seputar Sulawesi hingga buku-buku dari luar Sulawesi.  Di tengahnya, terdapat sebuah meja berbentuk persegi panjang dengan panjang sekitar dua meter dan di kelilingi oleh kursi-kursi layaknya sebuah meja rapat. Meja itu di cat menggunakan cat minyak coklat. Ruangan itu berbentuk segi empat kira-kira seluas 4 x 3,5 meter. Bapak yang biasa di sapa nasir itu mempersilakan mahasiswi itu duduk dan memulai mengajukan pertanyaan.
Pangeran diponegoro adalah pahlawan dari Indonesia, ujarya memulai cerita. Sambil menyalakan sebatang rokok. . Oleh belanda di ajak untuk berunding lalu di tangkap, lalu diasingkan ke manado kemudian dari manado, belanda  merasa kurang aman akhirnya pangeran diponegoro di asingkan di sini, di benteng roterdam. Selama kurang lebih 21 tahun. Dari tahun 1834-1845. Kisah itu terpotong, sebuah pertanyaan lain muncul dari seorang mahasiswi yang bernama marwah.
Politik belanda memang begitu, sering hanu, menipu orang. Selama 21 tahun pangeran di ponegoro di tawan di benteng roterdam, pangeran diponegoro itu sangat berpengaruh di pulau jawa, Jogjakarta. Sehingga belanda takut, jangan sampai dia menghasut rakyat untuk melakukan perlawanan sehingga diasingkan ke Makassar. Ketika pangeran diponegoro di tahan, benteng roterdam ini sedang di kuasai oleh belanda. Kenangnya kemudian. Laki-laki itu mengisap kembali batang rokoknya dan menaruh tangannya sejajar dengan dadanya.

feature



NURRAHMAH
JURNALISTIK A
50500113003

NONTON FILM “bukan” BOMBE
Kamis, 6 november 2014.
Mendung, tak ada matahari. Ia tampak malu-malu mengusir awan pada langit biru. “Bapak tunggu  Setengah lima di MP lantai 3 studio 21. Pesan diterima pukul 16:26:48.”
Motor-motor itu berjejer dengan rapi, seorang perempuan muda memasang kedua matanya untuk mencari celah dari jajaran motor itu, setelah menarik sebuah kertas dari mesin. “Pegang ini,” serunya pada teman yang di boncengnya. “Jangan sampai hilang,” tambahnya. “Kenapa kalau hilang,” Tanya temannya polos. “Nanti bayarannya lebih mahal” Jawabnya, tanpa menghilangkan fokusnya. Ia pun memarkirkan motornya di depan lotte mart.
Setelah sekian lama menunggu, muncul pula dua orang perempuan lainnya. Satunya kurus tinggi dan satunya gemuk dan imut. Mereka berempat akhirnya, menelusuri jalan sempit yang disisakan para motor itu, menuju pintu masuk gedung yang menculang langit itu, mall panakukkang. Penjual makanan berjejer di luar gedung itu, mulai dari penjual bakso, roti sampai risolles dan donat di jajakan.
Pintu masuk itu, di jaga oleh seorang satpam, satpam itu memiliki postur tubuh yang tinggi dan terlihat lebih muda dari satpam-satpam biasanya. Keempat mahasiswa itu melewatinya begitu saja. Namun, tiba-tiba satpam itu menarik sebuah ransel yang ada di punggung gadis itu, begitu lembut. Tapi cukup membuatnya kaget untuk berhenti. Lalu, satpam itu menggunakan sebuah alat yang sedari tadi digengamnya, menyisir ransel itu dari ujung atas sampai ujung bawah. Sementara gadis yang mempunyai ransel itu, merasakan deg-degan yang luar biasa. Ini pertama kali dalam hidupnya, tasnya di scan layaknya memeriksa sebuah bom seperti yang ia lihat di TV. Begitu deg-degannya, hingga ia menarik nafas panjang dan mengelus dadanya ketika alat itu hanya berbunyi klik dan dibiarkan oleh satpam itu untuk pergi. Keempat gadis itu adalah mahasiswi UIN alauddin Makassar, yang hari ini rencananya mereka akan nonton bareng film bersama teman sekelasnya dan dosen mereka yang mengajar teknik sinematografi, pak asnawin. Mahasiswi itu adalah sukmawati yang membonceng nurrahmah yang memakai ransel dan fatmawati yang kurus dan tinggi yang membonceng riezha Amelia yang gemuk dan imut.
Mereka terus melangkah, menyusuri setiap lorong dari gedung itu, mecari studio 21. Tempat yang telah di janjikan untuk bertemu, matahari seakan menghilang, ia benar-benar tidak ingin menampakkan wajahnya. Mendung, awan benar-benar telah menang. Sementara jam sudah menunjukkan jam lima lewat, sudah lewat dari perjanjian yang seharusnya pukul 16:30. Mereka telah sampai di studio 21. Satu lagi satpam penjaga, kali ini peraturannya begitu ketat, tidak boleh membawa makanan maupun minuman ke dalam studio. Sehingga seorang gadis yang memakai ransel itu terpaksa menarik keluar botol minuman aquanya yang tinggal setengah. Padahal haus sebentar lagi mendera kerongkongannya.
Teman-teman yang lainnya telah hadir lebih dulu, dan mereka telah memenuhi sebuah sofa yang ada di studio itu. Sofa yang bersandar pada dinding ruangan itu sepanjang kurang lebih satu meter. Ia melihat ketua kelasnya, kurus dan jangkung itu, menghampirinya. Dan seulas senyum mengembang kemudian.
Gadis berransel itu akhirnya menyadarkan tubuhnya pada sofa itu, rasa lelah akhirnya menjatuhkannya juga.  Gadis berransel itu biasa di sapa rahmah malam itu mengenakkan baju biru dan jilbab biru serta rok hijau motif bunga-bunga. “Jam berapa nontonnya,” Tanyanya. “Nanti habis magrib,” Jawab ketua tingkatnya. “Rahmah… rahmah,” tiba-tiba teman yang tadi datang bersamanya memanggilnya. “iya,”. “Uangmu ada berapa?”. “Ada kira-kira seratus lebih,” jawabnya ragu-ragu. “Bisa pinjamkan dulu, untuk beli tiketnya sukma sama novi.” “Oke-oke,” ia pun mengeluarkan selembar  uang warna merah dan selembar uang warna biru dari dompetnya.
Diskusi-diskusi kecil pun terjadi antara teman-teman dan ketua tingkat, film apa yang akan ditonton malam ini bahkan belum diputuskan, ada yang menawarkan film bombe, film buatan orang-orang Makassar yang sedang fenomenal. Kesepakatan belum juga didapatkan. Kemudian mereka digiring menuju studio XXI. Membutuhkan sebuah lift untuk mengangkut mahasiswa itu. Sementara tiga lainnya yang tak mau menunggu akhirnya memilih untuk menggunakan tangga darurat.
Dalam hitungan beberapa menit saja, lift itu telah sampai di studio XXI, ruangan itu berlantaikan karpet berbulu yang halus yang bahkan terlalu disayangkan untuk diinjakkan dengan sebuah sepatu. Pantas saja, dinamakan studio paling mahal bayarannya. Lagi-lagi, pemeriksaan tas dilakukan lebih-lebih pada yang berjenis ransel. Seolah-olah ransel lebih identik dengan sebuah tas bom.
Waktu benar-benar lewat dari yang telah dijanjikan, magrib telah usai. Perut mulai bernyanyi ria minta untuk di isi.
“Rahmah, sini.” “hah, apa.” “Sini!” “bagaimana nanti.” “Nanti?” “Iya, nanti?” “Kita pulangnya jam 9,” “hahhh, kok jam 9 sih.” “iya, terus bagaimana nanti, kamu mau tidur dimana? Masah aku ke samata sihh, malam-malam lagi.” Rahmah hanya diam, baginya tak masalah dimana pun itu, pasalnya besok tidak ada jadwal kuliah. “antar saja aku ke alauddin,” ujarnya kemudian. “ada kost teman-temanku di sana.” Semuanya menggangguk setuju.
Sebuah kertas warna kuning sudah dalam gengaman, PANAKKUKANG interstellar tertulis di dalamnya termasuk waktu dan tanggal yang di tulis singkat dengan bahasa inggris. Rahmah melangkah maju, menghampiri temannya yang sedang berdiri di depan kasir sambil membaca buku. “Film apa yang kita nonton nanti?” “Itu, interstellar.” Sambil menunjuk foto seorang pria yang berada di tengah salju, yang ada di sampingnya. Ia memeriksa kembali tiketnya, time : 19:15, tertulis di dalamnya.
Ia dan teman-temannya sudah berada dalam studio itu, ia mendapatkan kursi huruf G deretan ke 7. Nonton film yang harus meronggoh konceng sebesar 40.000. iklan-iklanpun di tayangkan termasuk promosi film “jokowi adalah kita”.
Lampu ruangan itu dimatikan, gelap. Layar di hadapannya semakin mendekat. Hanya ada satu cahaya, yaitu dari proyektor itu. Suasana dingin, hampir membuatnya mengigil, tak ada jaket yang di bawanya. Ia pun menarik lengan baju teman yang ada di samping kirinya, “ehh, dingin nih minta jaketmu sekalian ambilkan selimut!.” Nyatanya temannya itu hanya tersenyum dan kembali focus pada apa yang ada di hadapannya.
Pria itu bernama cooper, seorang penjelajah ruang angkasa. Karena ingin menyelamatkan generasi manusia, ia harus menjelajahi ruang angkasa bersama Dr. brand kedua kawannya untuk mencari tempat yang bisa dijadikan tempat tinggal. Sampailah mereka di planetnya Dr. mann, planet yang hanya serua dengan benua kutub utara. Salju, gunung es dan tidak ada daratan yang kering. Mereka menemukan Dr. mann, setelah sekian lama tertidur. Dari informasi Dr. mann, akhirnya Dr. mann dan cooper pergi ke tempat yang katanya Dr. mann cocok membuat markas. Hanya mereka berdua, di sebuah lembah. Tiba-tiba, Dr. mann menarik alat komunikasi cooper yang ada di helmnya. Konflik pun terjadi, Dr. mann yang dengan egoisnya ingin pulang ke bumi dengan niat membunuh cooper, sementara cooper yang memang tujuannya untuk keselamatan umat manusia merasa di bohongin oleh data-data dari Dr. mann. Perkelahian pun terjadi di antara keduanya, yang menyebabkan helm cooper pecah. Dr. mann tanpa memperdulikannya cooper pergi begitu saja. Cooper kehilangan banyak oksigen,dengan susah payah ia meraih kembali alat komunikasi itu.
Proses penyelamatan hidup umat manusia, nyatanya ada keegoisan dari manusia itu sendiri yang berujung pada kerugiannya sendiri. Di tengah planet yang bersalju itu, tak adakah pikiran untuk bekerja sama. Egoistis, lagi-lagi menghancurkan manusia. Dan menjadikan teman yang dengan susah payah telah sampai pada tempat itu menjadi korban, kenapa tidak mencoba menjadi jujur?. Manusia? Mengapa berbeda satu sama lain.
Ledakan besar itu menarik kembali fokusnya, begitu menghantam jantungnya. Ledakan besar dari pesawat yang di bawa kabur oleh Dr. mann.
Waktu tiga jam, tak terasa. Film itu masih meninggalkan rasa penasaran dalam hatinya, Dr. brand dan cooper akankah cinta itu akan ditemukan lagi. Mereka melangkah keluar, kali ini mereka menggunakan tangga darurat. Tempat-tempat belanjaan telah di tutup. Mall itu terlihat sepi, hanya ada beberapa motor dan mobil yang masih terparkir. Angin malam lagi-lagi menusuk tulangnya dengan ransel di punggungnya, ia melangkah di belakang dosennya yang sedang mengobrol dengan salah seorang temannya.